Menulis Lagi

Dalam suatu kesempatan saya pernah ditanya bagaimana caranya menulis yang baik. Di kesempatan yang lain, saya juga pernah ditanya tentang tips-tips menulis yang mudah dilakukan. Sebenarnya saya agak kurang nyaman untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Pertama, saya merasa belum pandai dan mahir menulis. Apa yang tertuliskan di sini biasanya hanyalah pikiran yang terlintas sekelebatan mata saja. Kedua, saya termasuk orang yang kurang pandai untuk membagi waktu. Berkali-kali sudah membuat jadwal yang (saya pikir) rapi, ternyata malah (dengan sukses) saya langgar sendiri. Walhasil, pekerjaan menulis yang secara sadar diniatkan untuk menulis sebuah buku, sampai saat ini belum terlaksana akibat begitu banyaknya toleransi waktu (baca: kemalasan) yang mendapat tempat. Jadi teringat kata Pablo Picasso yaitu menunda sampai besok apa yang Anda inginkan, bisa membuat Anda mati tanpa melakukan apapun. Wuih, malu sekali.

Memang benar, pekerjaan menulis membutuhkan sejumput kreativitas, kedisiplinan yang tinggi, dan kemewahan akan tersedianya waktu luang. Hal-hal yang sebenarnya merupakan sesuatu yang sulit untuk saya dapatkan akhir-akhir ini. Akan tetapi karena menulis sudah menjadi kebiasaan (dan juga panggilan jiwa), walaupun jarang dilakukan tetap saja selalu memanggil dan menggoda untuk segera dilakukan. Menumbuhkan kesukaan untuk menuliskan ide atau pemikiran dalam sebuah bahasa tulis memang bukan hal yang mudah, juga bukan hal yang susah untuk dilakukan. Yang diperlukan hanyalah sebuah sikap penasaran yang terus-menerus dipelihara, untuk selalu bertanya (dan bertanya-tanya) sekaligus belajar untuk mempertanyakan sesuatu.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat dan animo yang dapat menjadi dorongan bagi pikiran kita untuk senantiasa bertanya dan bertanya. Salah satunya adalah dengan membaca. Membaca apa saja dan di mana saja, melahap berbagai macam dan jenis literatur. Namun, kalau boleh saya bilang, pilihlah beberapa topik yang dianggap paling menarik, paling mendekati passion Anda. Biasa, lebih mudah untuk membaca buku-buku karya para penulis yang Anda idolakan. Yang saya lakukan biasanya adalah membuat daftar buku-buku yang akan saya baca dalam satu bulan ke depan. Buku-buku tersebut di atur sedemikian rupa sehingga pada akhir bulan, semua buku yang masuk daftar sebisa mungkin selesai dibaca.

Setelah membaca, biasanya akan timbul pemikiran tentang kesan dari buku yang baru saja kita baca. Mulailah untuk menjadi kritikus dari karya orang lain. Mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari karya yang baru saja kita baca. Setelah itu cobalah untuk membuat coretan-coretan sebagai sebuah review atau pendapat tentang kualitas dari buku yang di maksud. Dari review yang Anda buat, akhirnya diketahui tentang kriteria-kriteria dari kualitas karangan yang menurut Anda bagus. Mulai dari persepsi tersebut, mulailah membuat karya sendiri yang kualitasnya mendekati dari apa yang menjadi panduan untuk menilai karya orang lain tersebut. Biasanya, nilai rasa ini yang sering menghantarkan seseorang dari nobody menjadi somebody karena berawal dari ketidakpuasannya membaca karya orang lain sehingga mendorongnya untuk menulis karya sendiri yang lebih sreg di hati.

Sarana lain yang mudah bagi kita untuk belajar dan menumbuhkan inspirasi adalah dengan membaca blog para penulis yang sudah mempunyai jam terbang lumayan tinggi dalam dunia penulisan. Di era yang serba digital ini, blog sudah menjadi semacam media yang mudah diakses dan menjamur dalam ranah dunia maya. Dengan adanya kompetisi yang ketat dari para penyadia jasa internet, blog merupakan sarana yang murah meriah untuk belajar menulis sekaligus memublikasikannya kepada khalayak. Beberapa blog yang menarik dan dapat dijadikan alternatif sumber inspirasi adalah blognya Dewi ‘Dee’ Lestari, Andrea Hirata, Eka Kurniawan dan Ayu Utami. Walaupun ada banyak blog menarik di jagad maya, saya memilih keempat blog di atas karena mereka adalah penulis-penulis favorit saya. Sebenarnya ada satu lagi yaitu Pramoedya Ananta Toer. Tapi karena beliau sudah meninggal dunia, jadi karyanya hanya bisa saya nikmati dalam bentuk buku saja.

Para penulis di atas, kerap menuliskan pandangannya baik mengenai kehidupan, kebiasaan, maupun proses kretifnya dalam menulis. Tak jarang dalam beberapa postingan di blognya diselipkan tentang bagaimana tingkah polah perjuangannya dalam menulis dan membangun sebuah karya dari nol. Sampai saat ini saya juga masih penasaran dengan proses kreatif dari Habiburrahman El-Shirazy, penulis fenomenal yang sudah melahirkan karya-karya best seller seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain-lain. Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan karyanya, tapi saya kagum dengan kerajinan dan kedisiplinannya dalam menulis sehingga kelihatan sangat produktif menelurkan karya-karya baru.

Selain blog, ada juga sumber-sumber lain yang dapat dijadikan pilihan yaitu koran, surat kabar, dan majalah. Saya senang dengan dunia kliping. Biasanya, jika ada artikel atau berita menarik yang menurut saya unik dan penting, saya akan mengguntingnya untuk dijadikan kliping. Namun jika majalah tersebut kertasnya agak luks, saya sayang untuk mengguntingnya. Walhasil hanya majalahnya saja yang saya beri sampul agar tidak kusut dan gampang terlipat.

Banyak dari teman-teman saya yang bertanya bahwa di kepalanya banyak sekali ide terlintas dan meminta untuk segera ditulis menjadi sebuah karya entah berupa artikel, cerpen, puisi, atau hanya sebuah opini. Namun, kebanyakan dari mereka merasa susah untuk memulai menuliskannya. Yang menjadi pokok persoalan di sini bukan memulainya yang susah, tapi terlampau berkutat dengan segala ide yang bermunculan. Kuncinya adalah dengan menetapkan skala prioritas. Pilih satu topik yang paling menarik bagi Anda. Jika semua topik menarik untuk ditulis, tetap pilih satu saja dari sekian topik menarik tadi untuk mulai ditulis. Mulai satu-satu saja. Karena animo yang menggebu untuk menulis biasanya juga berakibat pada tidak tertuliskannya sama sekali semua ide yang terlintas tadi. Bukankah itu juga akan berpotensi menjadi limbah ide yang sangat disayangkan. Jadi, daripada banyak ide terbuang percuma, lebih baik memilih memulai yang sederhana dahulu. Membuat ulasan atau kritikan terhadap bacaan atau topik berita yang baru saja kita nikmati juga bisa digunakan sebagai sarana untuk menulis.

Saya kira, apapun alasannya, yang penting tetapkan disiplin untuk tetap menulis. Tak perlu dihiraukan tentang segala tetek bengek efek menulis yang katanya dapat melegakan pikiran atau menjadi terapi jiwa. Jika sudah tercipta suatu disiplin yang teratur untuk tetap menulis, saya yakin, tak perlu ada alasan susah untuk memulai. Catatan ini bukan sebagai acuan yang HARUS dilakukan. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam berproses kreatif dalam menulis. Cari dan nikmati cara yang paling nyaman dan paling efektif untuk membuat Anda dalam menulis. Kuncinya hanya satu. Terus menulis. (Adie Riyanto)

Tautan ke Mbah Google

Category: menulis  Leave a Comment